Rabu, 21 Oktober 2015

PUASA HARI ASYURA’ (MUHARRAM) DAN AMALAN-AMALANNYA





            Puasa hari Asyura (Muharram) adalah puasa pada hari kesepuluh dari bulan Muharram. Rasulullah saw bersabda tentang keutamaannya “Aku yakin Allah swt akan menghapuskan dosa tahun lalu”. Puasa Asyura tidak wajib hukumnya , sekalipun terdapat banyak hadits yang menyuruh untuk melakukannya, karena ada satu hadits Shahih al-Bukhari dan Muslim yang artinya : “Sesungguhnya hari ini adalah hari Asyura. Tidak diwajibkan atas kamu berpuasa. Tetatpi, siapa yang mau silahkan berpuasa, siapa yang tidak mau silahkan tidak berpuasa”. Para ulama memahamkan hadits-hadits yang berisi perintah puasa pada Asyura ini sebagai sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkad).
            Adapun hikmah Arafah menghapuskan dosa dua tahun (tahun lalu dan akan datang), sedangkan puasa Asyura hanya menghapuskan dosa satu tahun (tahun lalu), karena Arafah adalah harinya nabi Muhammad saw, sedangkan Asyura adalah harinya Nabi Musa as. Dan Nabi kita, Nabi Muhammad saw merupakan Nabi yang paling utama dari seluruh Nabi lainnya. Karena itu, hari Nabi kita menghapuskan dosa dua tahun.

A.    Puasa Tasu’a Menyertai Asyura
Puasa Tasu’a yaitu pada hari kesembilan bulan Muharram, berdasarkan sabda Rasulullah saw : “Jika aku hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharram), tetapi Rasulullah wafat sebelum itu.” (HR. Muslim).
      Dan hikmah puasa Tasu’a mengiringi Asyura adalah untuk berhati-hati, karena ada kemungkinan keliru dalam penetapan awal bulan. Juga untuk supaya berbeda dengan orang Yahudi, karena mereka pun berpuasa pada tanggal sepuluh Muharram. Begitu pula untuk berjaga-jaga dari menunggalkan puasa pada hari itu saja, sebagaimana halnya puasa pada hari jumat saja.
      Jika puasa Asyura tidak diikuti dengan puasa Tasu’a, maka disunnahkan mengiringinya dengan puasa pada hari kesebelas bulan Muharram. Bahkan, al-Imam asy-Syafi’I dalam kitabnya al-Umm dan al-Imla’, menyebutkan sunnah hukumnya puasa tiga hari tersebut (tanggal 9, 10, dan 11 bulan Muharram)[1].
B.     Amalan Hari Asyura
Adapun amalan-amalan yang dilakukan dihari Asyura di anataranya adalah :
1.      Puasa
2.      Dzikir
3.      Silaturrahim
4.      Sedekah
5.      Mengunjungi orang berilmu
6.      Membesuk orang sakit
7.      Mengusap kepala anak yatim
8.      Member kelapangan kepada keluarga
9.      Membaca surah al-Ikhlas seribu kali dan lain sebagainya[2].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah swt mewajibkan kepada Bani Isra’il berpuasa satu hari dalam setahun, hari Asyura, yaitu hari kesepuluh dari bulan Ramadhan. Maka berpuasalah kamu pada hari itu dan berikanlah kelapangan kepada keluargamu, karena siapa yang memberikan kelapangan harta kepada keluarganya niscaya Allah swt memberikan kelapangan kepadanya sepanjang tahun. Berpuasalah kamu pada hari itu, karena hari itu adalah hari :
1.      Diterima taubat Nabi Adam as sehingga dia menjadi bersih
2.      Diangkat Nabi Idris as ke tempat yang tinggi
3.      Dikeluarkan Nabi Nuh as dari perahunya
4.      Diselamatkan Nabi Ibrahim as dari api
5.      Diturunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as
6.      Dikeluarkan Nabi Yusuf as dari penjara
7.      Dikembalikan penglihatan Nabi Ya’qub as
8.      Dihilangkan kesulitan (cobaan) yang menimpa Nabi Ayyub as
9.      Dikeluarkan Nabi Yunus as dari perut ikat
10.  Terbelah laut merah untuk bani Isra’il
11.  Diberikan kekuasan (kerajaan) kepada Nabi Sulaiman as
12.  Hari pertama dunia diciptakan Allah swt
13.  Hari pertama hujan turun di langit
14.  Diciptakan ‘Arsy, Lauhul Mahfuzh dan Qalam
15.  Diciptakan Malaikat Jibril
16.  Diangkat Nabi Isa as ke langit
17.  Terjadinya kiamat
Barangsiapa yang berpuasa Asyura, seolah-olah dia telah berpuasa sepanjang tahun. Puasa Asyura adalah puasa para Nabi. Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dengan beribadah , seolah-olah dia beribadah kepada Allah swt sama seperti ibadah penghuni langit yang tujuh (malaikat)[3].
Hari mulia ini dikenal sebagai hari dimana diselamatkan dan dikeluarkan Nabi Nuh as dari kapalanya. Hal demikian tepatnya, ketika Nabi Nuh as dan pengikutnya turun dari kapal, mereka mengadukan rasa laparnya, sedangkan perbekalan sudah habis. Lalu Nabi Nuh as menyuruh mereka membawa sisa-sisa perbekalan yang tersedia. Ada yang membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kacang ‘adas, ada yang segenggam kacang ful, ada yang segenggam kacang hims, sampai tujuh macam biji-bijian. Dan hari tersebut adalah hari Asyura, lalu Nabi Nuh as mengumpulkan dan memasaknya untuk mereka. Kemudian mereka makan dan merasa kenyang degan berkat (barakah) Nabi Nuh as.
Peristiwa tersebut diabadikan Allah swt dalam firmanNya : “Hai Nuh,turunlah dnegan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu” (Q.S. Hud : 48). Yang mereka makan tersebut masakan pertama yang dimasak di muka bumi setelah terjadi topan besar. Kemudian orang menjadikan hal tersebut sebagai sunnag hari Asyura. Barangsiapa yang melakukannya dan member makan fakir miskin, dia akan mendapatkan pahala yang besar[4].

C.    Dzikir Hari Asyura
Al-‘Allamah al-Juhri menyebutkan bahwa orang yang membaca dzikir berikut sebanyak 70 kali pada hari Asyura dia akan dilindungi Allah swt dari keburukan tahun itu, yaitu :
حسبي الله ونعم الوكيل , ونعم المولى ونعم النصير




[1] Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Khatib asy-Syarbini (w.977 H), Mughni al-Muhtaj, h. 596.
[2] As-Sayyid al-Bakri bin as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyati, Hasyiyah I’anatuth Thalibin, h. 301.
[3] Hadits ini dicantumkan oleh imam ath-Thabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Kabir, dengan sanad yang masih diperbincangkan. Hadits ini termasuk hadits Maudhu’ dan disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at. Takhrij terhadap hadits ini dilakukan oleh asy-Syaikh Ibrahim bin Ahmad ‘Abdul Hamid.
[4] Asy-Syaikh Syu’aib bin Sa’ad bin Abdul Kafi, ar-Raudhul Faiq fi al-Mawa’izh wa ar-Raqaiq, h. 732 dan 739.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar