Minggu, 16 Maret 2014

TEGAKNYA KHILAFAH ISLAMIYAH SEBAGAI JALAN KELUAR DARI SETIAP PROBLEM UMMAT, BENARKAH DEMIKIAN?



TEGAKNYA KHILAFAH ISLAMIYAH
SEBAGAI JALAN KELUAR DARI SETIAP PROBLEM UMMAT,
BENARKAH DEMIKIAN?

            Dari setiap kesempatan Hizbut Tahrir selalu membicarakan tentang urgensi tegaknya khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya solusi sakti yang dapat mengatasi segala problem akut yangs edang dihadapi umat Islam seperti kemiskinan, kemunduran, kebodohan, kekalahan umat Islam menghadapi hegemoni Barat, lemahnya pendidikan, dan bahkan ketika membicarakan soal-soal sepele yang menimpa umat Islam seperti tentang jembatan yang ambruk, jalan raya yang rusak, daerah yang terkena banjir, musibah tanah longsor, gempa bumi dan lain sebagainya. Menurut mereka seandainya Khilafah Islamiyah dapat ditegakkan, maka sudah barang tentu semuanya akan mudah diatasi dalam waktu yang lebih cepat dan lebih baik.
            Asusmsi Hizbut Tahrir tersebut berangkat dari paradigma pemikiran mereka bahwa pemimpin yang baik dan sistem pemerintahan yang baik merupakan satu-satunya solusi yang sangat ampuh dalam mengatasi segala problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Tentu saja paradgma semacam ini sangat tidak bisa dinalar. Dalam pandangan agama, baik dan tidak nya suatu bangsa dan negara, tidak tergantung pada pemimpin dan sistem pemerintahan yang baik, akan tetapi lebih ditentukan oleh keshalehan dan ketaqwaan masyarakatnya, hal ini sebagai mana firman Allah Ta’ala :
ولو ان اهل القرى آمنو ا والتقوالفتحنا عليهم بركات من السماء والارض ولكن كذبوا فأخذنا هم بما كانوا يكسبون
            Artinya : “ jikalau sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya “. (Q.S al-A’raf 96).
            Ayat diatas menegaskan bahwa Allah Ta’ala akan memberikan keberkahan kepada penduduk negeri-negeri, dimanapun mereka berada,apabila mereka menjalani keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Jadi berkah dan tidaknya suatu negri lebih ditentukan oleh keimanan dan ketaqwaan individu masyarakatnya, dalam ayat lain Allah Ta’ala juga menegaskan:
“ Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “. (Q.S al-Nahl : 97).
            Kisah perang badar (silahkan rujuk sendiri kedalam buku-buku yang berkenaan), menjadi pelajaran yang sangat berharga kepada kita, bahwa pemimpin yang baik dan sistem yang baik tidak menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan kemenangan kaum Muslimin menghadapi musuh-musuh mereka. Kesejahteraan dan kemenangan kaum Muslimin lebih ditentukan oleh keshalehan dan ketaqwaan mereka baik dalam ranah individu maupun sosial. Keshalehan inilah yang beruapaya ditanamkan oleh para Ulama’ dalam visi dan misi perjuangan mereka dalam mendidikan bangsa, dan harus diketahui pula dalam mendidik karakter bangsa tidak mesti melalui jalan Khilafah Islamiyah, sesuai dengan firman-firman Allah tersebut diatas.
            Disini mungkin ada yang bertanya, apabila visi dan misi perjuangan para Ulama’ lebih difokuskan terhadap pendidikan masyarakat agar menanamkan keshalehan individual dan keshalehan sosial, lalu apa yang harus kita lakukan ketika kita dihadapkan oleh penguasa dan sistem pemerintahan yang tidak Islami? Menjawab pertanyaan ini, marilah kita renungkan firman Allah berikut ini :
“ demikian kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan “. (Q.S al-an’am 129).
            Dalam menafsirkan ayat di atas al-Imam Fakhruddin ar-Razi didalam kitabnya Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib Juz 13 hlm 159 , beliau berkata :
“ayat diatas menunjukkan bahwa apabila rakyat melakukan kezhaliman, maka Allah akan mengangkat seorang yang zhalim seperti mereka sebagai penguasa. Sehingga apabila mereka ingin melepaskan diri dari pemimpin yang zhalim tersebut, hendaklah mereka meninggalkan perbuatan zhalim”
            Paparan diatas memeberikan kesimpulan kepada kita, bahwa tampilnya seorang pemimpin yang zhalim yang memimpin dengan tangan besi serta menyebarkan kezhaliman ditengah-tengah rakyat tidak dapat dilepaskan dari perilaku rakyat itu sendiri yang penuh kezhaliman dan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala akan menumpas pemimpin yang zhalim itu dan menggantinya dengan pemimpin yang shaleh, menegakkan keadilan, menebarkan rahmat dan kasih sayang kepada rakyat, ketika rakyat itu telah bertaubat kepada Allah dengan meninggalkan perbuatan zhalim dan maksiat yang mereka lakukan.
            Berdasarkan hal tersebut, dalam berjuang para Ulama’ lebih memfokuskan pada pembentukan keshalehan individu maupun sosial, yang akhirnya akan membawa pada terciptanya baldatun thaiyyabatun wa rabbun ghafur.
By ; al-Faqir Abdullah al-Qurthubi az-Zuhaily.
والله اعلم

Kamis, 13 Maret 2014

HUKUM MELETAKKAN UANG DIDALAM AL-QUR'AN



HUKUM MELETAKKAN UANG
 DI DALAM AL QUR'AN

بسم الله الرحمن الرحيم . الحمد لله رب العلمين , اللهم صلى على سيدنا محمد , وعلى اله سيدنا محمد

            Kita ketahui bahwa banyak sekali orang yang menyimpan atau meletakkan uang di dalam al-Qur’an maupun kitab-kitab dan meletekkannya dilembaran-lembarannya. Dengan alasan agar lebih aman dari kehilangan yang disebabkan dicuri oleh makhluk halus, atau bahkan tidak dengan alasan tersebut. Disebutkan didalam kitab Fathul Mu’in hal 84 :

ووصع نحو درهم في مكتوبة ﻭﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ. ﻭﻛﺬﺍ ﺟﻌﻠﻪ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻗﻪ

Artinya : “dan haram meletakan semacam uang di tempat yang tertulis al quran atau ilmu syara atau menyisipkan pada lembaran-lembarannnya .

Kemudian disebutkan juga didalam kitab Hasyi’ah I’anantu at-Thalibin Juz 1 hal 49 :

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﺑﺎﻟﺮﻓﻊ، ﻣﻌﻄﻮﻑ ﺃﻳﻀﺎ ﻋﻠﻰ ﺗﻤﻜﻴﻦ. ﺃﻱ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ. ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ ﺃﻱ ﻓﻴﻤﺎ ﻛﺘﺐ ﻓﻴﻪ ﻣﺼﺤﻒ، ﺃﻱ ﻗﺮﺁﻥ، ﻛﻠﻪ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻪ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ: ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﺫﻫﺐ ﻓﻲ ﻛﺎﻏﺪ ﻛﺘﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ. ﺍﻩ. ﻗﺎﻝ ﻉ ﺵ: ﺃﻱ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﻌﻈﻢ. ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ.ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﻈﻢ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻜﺎﺗﺒﺎﺕ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ، ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻭ ﺍﺳﻢ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻣﺜﻼ، ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺇﻫﺎﻧﺘﻪ ﺑﻮﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻓﻴﻪ. ﺍﻩ )ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ( ﺑﺎﻟﺠﺮ، ﻋﻄﻒ ﻋﻠﻰ ﺿﻤﻴﺮ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ. ﺃﻱ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ، ﺃﻱ ﻣﺎ ﻛﺘﺐ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ ﻛﺎﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ. ﻭﻟﻮ ﻗﺎﻝ: ﻛﻐﻴﺮﻩ ﻭﻛﻞ ﻣﻌﻈﻢ، ﻟﻜﺎﻥ ﺃﻭﻟﻰ.ﺇﺫ ﻋﺒﺎﺭﺗﻪ ﺗﻘﺘﻀﻲ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻭﺿﻊ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻣﻦ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﻛﺎﻟﻨﺤﻮ ﻭﺍﻟﺼﺮﻑ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻌﻈﻢ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ. )ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻛﺬﺍ ﺟﻌﻠﻪ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻗﻪ( ﺃﻱ ﻭﻛﺬﺍ ﻳﺤﺮﻡ ﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻕ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﻓﻴﻪ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻳﻐﻨﻲ ﻋﻨﻪ

Artinya : “(qouluhu wadu dirhamin) dan haram menaruh semodel uang ,yakni yang di dalamnya ada tulisan al qur,an baik keseluruhan tau sebagian. dan ibarot dalam ktb nihayah: tidak boleh membuat semodel mas di jadikan semodel wadah di dalamnya bertulisan lafad basmalah. berkata ali sibromalisi: lain dari al quran setiap yang di agungkan. sebagaimana telah di sebutkan ibnu hajar dalam bab istinja. termasuk yang di agungkan yang terletak di majalah atau semodelnya yang di dalamnya ada ada nama allah atau rosulnya, maka oleh karena itu haramnya untuk menghinanya semodel menaruh uang di atasnya. al-Qur`an adalah kitab suci yg harus dihormati dan dimuliakan. Setiap bentuk perlakuan yg berunsur merendahkan al-Qur`an sangatlah dilarang oleh syari'at. Dan mayoritas ulama mengkategorikan sebagai praktik merendahkan derajat al-Qur`an ialah meletakkan uang di dalam Mushhaf / meletakkannya di antara lampiran-lampirannya dan menghukuminya haram.
والله تعالى اعلم

Senin, 10 Maret 2014

SEHARUSNYA ANDA BANGGA MENJADI SEORANG MUSLIM



SEHARUSNYA ANDA BANGGA
 MENJADI SEORANG MUSLIM

بسم الله الرحمن الرحيم . الحمد لله رب العلمين , اللهم صلى على سيدنا محمد , وعلى اله سيدنا محمد
            Dikisahkan dari kitab al-Bidayah Wa an-Nihayah Karya al-Imam Ibnu Katsir dan dari kitab Tarikh at-Thabari :
            Kedua pasukan telah siaga. Pihak persia telah meminta Islam mengirimkan utusan. Untuk menyambutnya, disiapkan dekorasi uper wah dari berbagai pernak pernik yang luar biasa mahalnya. Untuk alas penyambutan, bukan sekedar karpet merah, tapi permadani sutra dan bantal-bantal yang empuk. Barangkali, tujuannya adalah agar si utusan dari Islam merasa terkagum-kagum dan minder saat membandingkan dirinya, lalu rasa minder itu bisa ia bawa pulang untuk ditularkan kepada pasukan Muslim pada saat itu.
            Yang ditunggu tiba yaitu utusan dari pasukan Islam, seorang laki-laki negro dengan baju perang, tombak dan seekor kuda pendek. Dia adalah Rib’i bin Amir Radhiyallahu Anhu. Meski begitu, yang dilakukannya benar-benar membuat para penyambut di kerajaan rum menjadi jengkel, sengaja kudanya diberhentikan diujung permadani hingga menginjaknya.
            Para Body Guard Rustum, paglima persia, membentak, “lepaskan senjatamu”!. Dengan dingin ia menjawab, “ aku tidak pernah berniat mendatangi kalian, tapi kalianlah yang mengundangku. Jika kalian memerlukanku, biarlah aku masuk seperti ini, jika tidak aku akan kembali “. Ujar Rib’i bin Amir Radhiyallahu Anhu.
            Rustum (Raja Persia) berujar, “Biarkan ia masuk”. Ia berjalan dan mengarahkan ujung tombaknya kebawah hingga membuat lubang-lubang pada bantal – bantal disekitarnya. Apa yang membawa kalian kemari? Tanya Rustum. Rib’i bin Amir Radhiyallahu Anhu menjawab : “ Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju keluasan-Nya, dari kezhaliman agama-agama menuju keadilan al-Islam.....”.
            Dialog terus berlanjut dan rustum tampak kagum dengan utusan yang dihadapannya. Melihat itu yang para pengawal Rustum coba menegur supaya tidak terpengaruh oleh si Negro “Rib’i bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu”, kemudian mereka berkata kepada Rustum : “ lihatlah bagaimana ia berpakaian “. Kemudian Rustum menjawab : “ Celakalah kalian ! Janganlah kalian melihat kepada pakaian, akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya ! sesungguhnya orang-orang Islam menganggap ringan masalah pakaian dan makanan, tetapi mereka sangat menjaga harga diri mereka.
            Dalam kisah di atas Rib’i r.a bukan bersikap arogan dan menihilkan akhlaq. Kondisi saat itu sedang perang. Dan dalam perang, perang mental (psywar) bukanlah aspek yang patut diremehkan. Dengan sikap dari Rib’i bin Amir r.a serangan mental musuh pun gagal total. Sikap yang mencerminkan izzatunnafsi (kemulian diri), percaya diri dan keyakinan bahwa ISLAM yang dimilikinya jaul lebih mulia dari pada semua yang mereka perlihatkan, kemewahan diatas kekufuran dan kefasikan tak ubahnya kain sutra yang dibungkuskan kepada mayat yang busuk.
            Itulah Izzah yang semestinya dimiliki atau diwarisi oleh setiap Muslim. Sayangnya karakter Rib’i bin Amir saat ini seperti punah. Tidak sedikit umat Islam yang justru minder dengan apa yang ada didalam  Islam dan silau dengan yang lain. Krisis percaya diri menggejala dalam hal pemikiran, peradaban, bahkan budaya dan moralitas. Kebanyakan malah beramai-ramai mengadopsi pemikiran barat, peradaban dan kebudayaannya, bahkan nilai dan ukuran moralnya, seakan-akan Islam miskin dengan semua itu, atau kalaupun ada dianggap sudah usung.
            Kondisi ini semakin kritis, kekadar untuk menunjukkan identitas diri dan syiar kepada sesama muslim sekalipun merasa minder. Untuk berjilbab, menghidupkan sunnah Nabi saw, shalat berjama’ah dimasjid (bagi laki-laki), rajin mengaji, menjadi aktivis masjid, tidak sedikit yang enggan karena minder. Seharusnya mereka belajar dari kisah Rib’i bin Amir Radhiyallahu Ahnu. Sudah sepatutnya lah kita saat ini untuk berani menunjukkan identitas kita sebagai seorang Muslim maupun Muslimah sejati dengan membuang jauh-jauh rasa minder dan sebagainya.
            Minder atau kurang percaya diri disebut juga dha’fu ats tsiqqah bin nafsi. Suatu perasaan yang memandang rendah dan kecil terhadap apa yang dimiliki, dibandingkan dengan yang ada pada orang lain atau tuntutan situasi.
            Jika seorang Muslim atau Muslimah merasa minder dengan ke-Islaman dan Syi’arnya, maka pasti ada yang salah dengan persepsinya tentang Islam. Ia memandang pasti ada yang kurang dengan Islam dan atau ada yang lebih baik dari Islam dan lebih pantas dibanggakan hingga mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Errornya terletak pada persepsinya, bukan Islamnya. Sebab Islam adalah sesuatu yang tinggi nilainya dan lebih dari cukup sekadar untuk menumbuhkan  rasa percaya diri pada seseorang. Lebih dari motor atau mobil mewah yang membuat pengendaranya mendongak saat mengendarainya, lebih dari gelar akademis yang bisa membuat pemiliknya pede tampil dimana-mana dan ingin gelarnya selalu dipajang, lebih dari muka rupayan yag membuat pemiliknya bisa pede bertemu seiapa saja, dan lebih dari segalanya seperti yang kita temukan pada sosok seperti Rib’i bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu.
الاسلام يعلو ولايعلى عليه
            Artinya : “ Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggiannya “ (H.R ad-Daruquthni dari Sahabat ‘Aidh bin ‘Amru).
            Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah, Allah Ta’ala berfirman :
ان الدين عندالله الأسلام
            Artinya : “ Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam “ (Q.S ali-Imran 19).
            Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan dan kemuliaan, keluhuran yang tertinggi yang tidak tertandingi nilainya. Agama yang menyentuh berbagai aspek kehidupan dan terdapat kebaikan dan mashlahat dalam setiap detail ajarannya. Dengan begitu, kesalahan persepsi diatas disebabkan oleh minimnya pengetahuan sesorang terhadap Islam serta dangkalnya ma’rifat (pengenalan) terhadap nilai-nilai mulia yang terkandung didalam ajaran Islam.
            Tapi itulah relaita umat Islam hari ini. Kemuliaan Islam justru terhalangi oleh umatnya sendiri. Kiranya benarlah apa yang dikatakan oleh Muhammad Abduh : “ al-Islamu Mahjubun bil Muslimin “ , Islam itu justru terhalang sinar kemuliaannya oleh kaum Muslimin sendiri. Malah kaum Muslimin/Muslimah sibuk mengais-ais nilai pemikiran dari budaya dan TONG SAMPAH peradaban kafir dari pada menggali emas dan mutiara yang ada dalam Islam itu sendiri. Lebih pede beratribut, beridentitas dan bergaya meniru orang kafir dan orang-orang yang tak menganggap penting agama dari pada mengenakan atribut Islam yang mulia dan berfaedah. Dan kini Islam seperti tengah mengalami gerhana hingga sinarnya meredup dan bahkan hampir sirna. Wallahu Musta’an,semoga Allah segera membangkitkan keadaran umat ini akan keagungan nilai-nilai pada Agama Islam yang telah mereka anut. Lalu mereka berseru “saksikanlah, kami adalah para pemeluk Islam”.
            Ya Ayyuhal Muslimun,,,,,, janganlah silau dengan keindahan dunia, sesungguhnya nikmat yang terbesar adalah nikmat Iman dan Islam. Nikmat Iman dan Islam jauh lebih berharga dari bumi dan isinya.
            Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, untuk lebih mencintai apa-apa yang ada di dalam Islam itu sendiri.
Oleh : al-Faqir ilallah Sumitra Nurjaya al-Jawiy / Abdullah al-Qurthubi al-Zuhaily.
والله تعالى اعلم

Minggu, 09 Maret 2014

SIFAT KE-EMPAT AL-MUKHALAFATU LILHAWADITSI



SIFAT KE-EMPAT
AL-MUKHALAFATU LILHAWADITSI[1]

Disebutkan didalam kitab al-Husunu al-hamidiyyah :
الصفة الربعة : المخلفة للحوادث . يجب لله تعالى المخالفة للحوادث , ويستحيل عليه ضدها وهو : المماثلة للحوادث , بأن يكون تعالى مشبها لهذه الموجودات الحادثة في خاصة من خواصها التى من طبيعة نفسها ....الخ .
Artinya : “Sifat ke-empat yaitu Mukhalafatuhu Lilhawadits (Allah berbeda dengan sesuatu), mustahil sebaliknya yakni Mumatsalah Lil Hawadits (Allah sama dengan sesuatu). Misalnya Allah Ta’ala menyerupai ‘alam, baik ketentuan ataupun tabi’atnya, seperti bertubuh, sifat-sifatnya, keadaannya, berubah-ubahnya, bersusun atau berpecah-pecahnya, keluar dari yang lain atau mengeluarkan yang lainnya pula, bersambung atau berpisah, menyerupai binatang, tanaman, logam, atau berpindah dari satu tempat ketempat lain, tertawa, atau merasa heran pada sesuatu dan sebagainya. Jadi,  Allah Ta’ala tidak menyerupai sesuatu pun, kalau Allah Ta’ala itu menyamai sesuatu dari ‘alam wujud yang bersifat baharu (ada permulaan dan ada akhirnya), maka Allah Ta’ala akan menjadi seperti itu pula, karena yang menyamai sesuatu itu dalam salah satu ketentuan-ketentuannya adalah termasuk golongannya”.
            Disebutkan didalam kitab kifayatul awwam :
فالله مخالف لكل مخلوق من انس وجن وملك وغيرها
Artinya : “ Maka Allah itu berbeda dengan tiap-tiap makhluq dari golongan manusia, jin , malaikat dan yang lainnya “.
فلا يصح اتصافه تعالى بأصاف الحوادث من مشى و قعود وجوارح
Artinya : “ Maka tidak shah bersifatnya Allah Ta’ala dengan sifat-sifat segala yang baru seperti berjalan, duduk, dan (mempunyai) anggota-anggota tubuh “.
فهو تعالى منزه عن الجوارح من فم وعين واذن وغيرها
Artinya : “ Maka Allah Ta’ala itu disucikan dari pada anggota-anggota tubuh berupa mulut, mata, telinga dan lainnya (seperti tangan, kaki, dan istiwa / bersemayam di Arsy sebagaimana istiwa’nya makhluq pada sesuatu) “.

Disebutkan didalam kitab Tanwiru al-Qulub :
واما المخالفة للحوادث : فمعناها انه تعالى ليس مماثلا لشيء من الحوادث في الحدوث ولوازمه في ذاته ولافي صفاته ولافي افعاله , فليس جسما وليس قائما بجسم او محاذياله , وليس فوق شيء ولاتحته ولا خلفه ولا عن يمنه ولا عن يساره ولا يوصف بحركة ولاسكون وليس بذى اجزاء فليس له يد ولا عين ....الخ .
                        Artinya : “ Dan adapun al-Mukhalafatu Lil Hawadits artinya Allah Ta’ala tidak serupa dengan sesuatupun selain Dia, tidak dalam Dzat-Nya, tidak dalam Shifat-Nya, dan tidak juga dalam Af’al (perbuatan-perbuatan-Nya). Dzat Allah bukan Jisim, tidak pula menempati atau bersandar pada Jisim. Allah tidak diatas atau dibawah sesuatu, tidak dibelakang atau disamping kiri dan kanan sesuatu. Tidak diseifati dengan gerak dan diam dan bagian-bagian yang dimiliki oleh makhluk. Allah tidak mempunyai tangan, mata , telinga atau ciri-ciri makhluk lainnya. Adapun keterangan yang ada didalam al-Qur’an atau Hadits yang mengungkapkan seolah-olah Allah serupa dengan makhluk, seperti : “ Yadullah Fauqa Aydihim ( Tangan Allah diatas tangan mereka)” harus ditakwil dari makna lahiriyahnya yang bersifat umum “. Ilmu Allah tidak seperti ilmu kita, Allah tidak lupa dan tidak lalai, tidak pula jahil (bodoh). Kuasa Allah tidak membutuhkan alat dan sarana. Allah berkehendak tidak karena maksud tertentu, hidup Allah tidak dengan ruh (nyawa) sebagaimana hidupnya kita. Pengelihatan dan pendengaran Allah tidak dengan indra. Kalam Allah tidak dengan suara dan tidak dengan huruf sebagai lambang suara, dan Allah tidak diam. Perbuatan Allah tidak dengan anggota tubuh, tidak pula sekedar gurauan. Sungguh Maha Suci Allah dari semua itu.
واما الدليل عليها عقلا انه لو ماثل شيئامن الحوادث في ذاته اوفي صافته او في افعاله لكن حادثا مثله وهو باطل
            Artinya : “ Dalil aqli yang menunjukkan kemestian Allah bersifat tidak serupa dengan segala sesuatu selain Dia (al-Mukhalafatu Lil-Hawadits) adalah Apabila Allah serupa dengan sesuatu dari selain Dia, baik Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya ataupun perbuatan-perbuatan-Nya, tentu Allah juga sama dengan sesuatu tersebut yang bersifat (baharu), dan itu sungguh bathil “.
واما الدليل عليها نقلا قوله تعالى : ليس كمثله شيء وهو السميع البصير
            Artinya : “Dan adapun dalil Naqli Allah berbeda dengan segala sesuatu (al-Mukhalafatu Lil-Hawadits) adalah firman Allah Ta’ala : “ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat “[2].
            Berdasarkan keterangan diatas maka apa-apa yang datang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah berupa ayat-ayat atau Hadits-Hadits yang bertentangan dengan demikian maka kita harus menakwilnya yakni memalingkan dari zhahirnya. Dan hal ini telah disepakati oleh Ulama’ Salaf dan Khalaf, akan tetapi Ulama’ Salaf menakwilkannya dengan takwil ijmali (global) dalam artti tidak menentukan maknanya yang dikehendaki, karena mereka mentafwidh atau menyerahkannya kepada Allah Ta’ala.
            Mengenai ayat Mutasyabihat yang mesti diya’wil seperti firman Allah ta’ala : يد الله فوق ايديهم (Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka), mengenai ayat ini para Ulama’ Salaf berkata : Bukanlah maksud dari ayat ini bahwa Allah mempunyai anggota tubuh yang dimaklumi dan tidak ada yang mengetahui maksud dari “Tangan” pada ayat tersebut kecuali hanya Allah yang mengetahuinya.
            Sedangkan Ulama’ Khalaf berkata : ayat ini mesti dita’wil dengan ta’wil yang tafshili (terperinci) dalam arti menentukan maknanya sesuai dengan sesuatu yang layak bagi Allah. Jadi maksud ayat tersebut bukanlah bahwa Allah ta’ala mempunyai anggota tubuh sebagaimana yang dimaklumi, akan tetapi maksudnya adalah bahwa Allah mempunyai kekusaan, sehingga makna ayat itu dita’wil menjadi “Ke-Kuasaan Allah di atas ke-kuasaan mereka”. Seperti inilah maksud dari asy-Syaikh Burhanuddin al-Laqani didalam kitab Matan Jauharah Tauhidnya :
وكل نص او هم التشبيها #  اوله اوفوض ورم تنزيها #
            Artinya : “ Dan setiap Nash yang memberi persangkaan kepada tasybih (penyerupaan) maka ta’wilkanlah atau tafwidhkan (serahkan maknanya) kepada Allah Ta’ala dan hendaknya engkau memaksudkan Tanzih (penyucian)”.

والله تعالى اعلم



[1]Makalah ini disampaikan oleh Al-Faqir ilallah Sumitra Nurjaya Al-Banjariy Al-Jawiy pada Majlis Ta’lim Miftahu al-Khair halaqah Mahasiswa PAI  Univa Medan pada tanggal 6 Jumadil Awwal 1435 H bertepatan tanggal  8 Maret  2014 di Masjid Nurul Hidayah  Jl Garu II A. Makalah ini disusun dari kitab :
-         Al-Husunu al-Hamidiyyah Lil-Muhafazhati ‘ala al-‘Aqaidi al-Diniyyati oleh asy-Syaikh Husain bin Muhammad al-Jirs ath-Tharabilisi.
-         Kifayatu al-Awwam oleh asy-Syaikh Muhammad al-Fudhali
-         Tanwiru al-Qulub fi Mu’amalati ‘Allami al-Ghuyub oleh asy-Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbaliy an-Naqsabandi asy-Syafi’i.
NB : Jika ada yang kurang jelas dapat ditanyakan dinomor : 083198940194
[2] Q.S Asy-Syura (42) : 11.