TERJEMAH KITAB SABILAL MUHTADIN Fiqih Madzhab Syafi'i
______________________________
TERJEMAH KITAB SABILAL MUHTADIN
Karya ; asy-Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Penerjemah ; Prof. H.M. Asywadie Syukur LC.
Tebal buku :
- Jilid Satu ; -+ 540 hlm.
- Jilid Kedua ; -+ 700 hlm.
Kertas Putih.
Berat total 1 Kilo Setengah (dihitung 2 Kg).
Sampul : Hard Cover.
Penerbit ; Bina Ilmu
______________________________
Harga Lihat di Foto.
(Belum termasuk ongkir)
______________________________
TERJEMAH KITAB SABILAL MUHTADIN Fiqih Madzhab Syafi'i.
Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari lahir disebuah desa dekat kota Martapura, kalimantan Selatan Sekitar tahun 1707 M.
Semenjak kecil sudah nampak ciri - ciri yang luar biasa pada dirinya, diantaranya adalah kecerdasannya dan sikap sopan sntunnya, sehingga sang sultan mengirimnya ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama kepada para ulama di Makkah dan Madinah.
Beliau banyak sekali menyusun kitab, baik dalam bahasa Arab Melayu maupun dalam Bahasa Arab.
Kitab Sabilal Muhtadin menjadi salah satu kitab Karangan beliau yg bergerak di bidang fiqih.
______________________________
READY STOCK
______________________________
Pemesanan hubungi WA/LINE : 083191500500
atau SMS 082304117123.
Atau datang Langsung ke Toko Buku Bustanul Arifin Medan.
Alamat ; Jl Garu 2 B, Gg Karya No 30 A, Kelurahan Harjosari Satu, Kecamatan Medan Amplas, Kota Madya Medan.
________________________
Untuk diluar kota Medan
🚛 Pengiriman via JNE/POS dari MEDAN.
.
Jadilah MUSLIM yg berwawasan bersama KAMI😊😊😊
Rabu, 10 Mei 2017
TERJEMAH MAROQIL UBUDIYAH Syarh Bidayatul Hidayah
______________________________
TERJEMAH MAROQIL UBUDIYAH Syarh Bidayatul Hidayah
Karya ; asy-Syaikh Nawawi al-Bantany al-Jawiy
Penerjemah ; al-Habib Zaid Husain al-Hamid.
Tebal buku : -+ 315 hlm
Sampul : Hard Cover.
Penerbit ; Mutiara ilmu
______________________________
Harga 40.000
(Belum termasuk ongkir)
______________________________
TERJEMAH MAROQIL UBUDIYAH adalah Syarah dari kitab Bidayatul Hidayah Karangan al-Imam al-Ghazali r.a.
Kitab yg menjadi rujukan utama para santri ataupun masyarakat perihal Adab dan Akhlaq.
Layak dijadikan bahan rujukan di dalam berakhlaq dan beradab.
Termasuk buku yg sangat dicari dan laris di pasaran.
___________________________
READY STOCK
______________________________
Pemesanan hubungi WA/LINE : 083191500500
atau SMS 082304117123.
Atau datang Langsung ke Toko Buku Bustanul Arifin Medan.
Alamat ; Jl Garu 2 B, Gg Karya No 30 A, Kelurahan Harjosari Satu, Kecamatan Medan Amplas, Kota Madya Medan.
________________________
Untuk diluar kota Medan
🚛 Pengiriman via JNE/POS dari MEDAN.
.
Jadilah MUSLIM yg berwawasan bersama KAMI😊😊😊
______________________________
TERJEMAH MAROQIL UBUDIYAH Syarh Bidayatul Hidayah
Karya ; asy-Syaikh Nawawi al-Bantany al-Jawiy
Penerjemah ; al-Habib Zaid Husain al-Hamid.
Tebal buku : -+ 315 hlm
Sampul : Hard Cover.
Penerbit ; Mutiara ilmu
______________________________
Harga 40.000
(Belum termasuk ongkir)
______________________________
TERJEMAH MAROQIL UBUDIYAH adalah Syarah dari kitab Bidayatul Hidayah Karangan al-Imam al-Ghazali r.a.
Kitab yg menjadi rujukan utama para santri ataupun masyarakat perihal Adab dan Akhlaq.
Layak dijadikan bahan rujukan di dalam berakhlaq dan beradab.
Termasuk buku yg sangat dicari dan laris di pasaran.
___________________________
READY STOCK
______________________________
Pemesanan hubungi WA/LINE : 083191500500
atau SMS 082304117123.
Atau datang Langsung ke Toko Buku Bustanul Arifin Medan.
Alamat ; Jl Garu 2 B, Gg Karya No 30 A, Kelurahan Harjosari Satu, Kecamatan Medan Amplas, Kota Madya Medan.
________________________
Untuk diluar kota Medan
🚛 Pengiriman via JNE/POS dari MEDAN.
.
Jadilah MUSLIM yg berwawasan bersama KAMI😊😊😊
TERJEMAH TAFSIR AYATUL AHKAM/ROWA'IUL BAYAN
______________________________________
Penulis ; Karya asy-Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobuni.
Jumlah 2 Jilid
Tebal ;
1. Jilid Pertama ; -+ 670 hlm (Buku Ukuran Besar).
2. Jilid Kedua ; -+ 700 hlm (Buku Ukuran Besar).
Hard Cover.
Kertas Putih.
Penerbit ; Keira
Berat Buku ; 2,7 Kg (Digenapkan 3 Kg).
_______________________________________
Harga Rp 260. 000 (Harga discount) dari harga Asal Rp 320.000
Berlaku Sampai Tanggal 16 Mei 2017.
Kami Juga Menjual Untuk Grosiran Dengan Harga Jauh Lebih Murah.
(Belum termasuk ongkir)
______________________________
READY STOCK
Stok Sangat Terbatas
______________________________
Pemesanan hubungi WA/LINE/SMS 083191600500.
Bagi yg ingin jadi Reseller kami, monggo hubungi kontak di atas.
Atau datang Langsung ke Toko Buku Bustanul Arifin Medan.
Alamat ; Jl Garu 2 B, Gg Karya No 30 A, Kelurahan Harjosari Satu, Kecamatan Medan Amplas, Kota Madya Medan.
________________________
Untuk diluar kota Medan
🚛 Pengiriman via JNE/POS dari MEDAN.
.
Jadilah MUSLIM yg berwawasan bersama KAMI😊😊😊
______________________________________
Penulis ; Karya asy-Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobuni.
Jumlah 2 Jilid
Tebal ;
1. Jilid Pertama ; -+ 670 hlm (Buku Ukuran Besar).
2. Jilid Kedua ; -+ 700 hlm (Buku Ukuran Besar).
Hard Cover.
Kertas Putih.
Penerbit ; Keira
Berat Buku ; 2,7 Kg (Digenapkan 3 Kg).
_______________________________________
Harga Rp 260. 000 (Harga discount) dari harga Asal Rp 320.000
Berlaku Sampai Tanggal 16 Mei 2017.
Kami Juga Menjual Untuk Grosiran Dengan Harga Jauh Lebih Murah.
(Belum termasuk ongkir)
______________________________
READY STOCK
Stok Sangat Terbatas
______________________________
Pemesanan hubungi WA/LINE/SMS 083191600500.
Bagi yg ingin jadi Reseller kami, monggo hubungi kontak di atas.
Atau datang Langsung ke Toko Buku Bustanul Arifin Medan.
Alamat ; Jl Garu 2 B, Gg Karya No 30 A, Kelurahan Harjosari Satu, Kecamatan Medan Amplas, Kota Madya Medan.
________________________
Untuk diluar kota Medan
🚛 Pengiriman via JNE/POS dari MEDAN.
.
Jadilah MUSLIM yg berwawasan bersama KAMI😊😊😊
Selasa, 22 Desember 2015
KEUTAMAAN ISTIGHFAR
Sumber : Kitab Tafrihu al-Qulub wa Tafrihu
al-Kurub
Oleh al-Imam al-Habib ‘Umar bin al-Habib Saqqaf
bin Muhammad
bin ‘Umar
as-Shafi as-Saqqaf
Adapun istighfar itu adalah ia
sebagai sebab mudahnya rezeki, penebus (penghapus) dosa, membuka kesulitan, menutup
aib, melindungi harta, mengalirnya keberkahan pada harta, menaikkan derajat
dalam agama, dan mencegah kesedihan (kegundahan). Kesusuhan yang berkelanjutan yang
kita alami, sebabnya adalah karena banyaknya dosa yang telah kita lakukan, maka
obatnya adalah dengan beristighfar , bertaubat dengan sebenar-benar taubat dan
menyesal atas dosa yang telah dilakukan. Rasulullah saw bersabda :
من لزم الأستغفار .... جعل لله له
من كل هم فرجا ومن كل ضيق مخرجا , ورزقه
من حيث لايحتسب
Artinya : “Barangsiapa yang
senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap
kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rezeki
dari arah yang tiada disangka-sangka” (H.R Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Pakaian kotor membutuhkan sabun
untuk membersihkannya dan membutuhkan minyak wangi untuk menjadikannya wangi. Dosa
ibarat pakai kotor, sabun adalah taubat dan minyak wangi adalah istighfar.
Maka, diri kita yang penuh dosa ini membutuhkan taubat untuk membersihkan
dosa-dosa itu dan istighfar sebagai pewanginya.
Seorang laki-laki datang kepada
al-Imam Hasan al-Bashri untuk mengadukan kesulitannya, ia mengadu bahwa ia
mengalami kekeringan sehingga tanaman tidak tumbuh subur. Maka al-Imam Hasan
al-Bashri menjawab : “Beristighfarlah kepada Allah”, kemudian laki-laki tadi
mengadukan kefakirannya, al-Imam pun menjawab : “Beristighfarlah kepada Allah”,
dan setelah itu laki-laki tadi mengadukan bahwa ia sudah lama menikah namun
tidak dikaruniai anak, maka al-Imam menjawab ‘Beristighfarlah kepada Allah”.
Sayyidah ‘Aisyah r.a mengatakan : “Adalah
Rasulullah saw memperbanyak bacaan pada ruku’ dan sujudnya (Subhanakallahumma
wabihamdik, Allahummagh-firli)”. Rasulullah saw mengamalkan hal ini karena
Allah swt berfirman :
فسبح بحمدربك واستغفره
Artinya : “Maka bertasbihlah
kepada Tuhanmu dan beristighfarlah”.
Sempurnanya hitungan dalam
beristighfar adalah 1000 kali di waktu pagi dan 1000 kali di waktu petang,
adapun istighfar yang di baca yaitu :
أستغفرالله العظيم الذي لااله الا
هو الحي القيوم وأتوب اليه من كل ذنب فعلته الى وقتي هذا والله غفور رحيم
A. Sayyidul-Istighfar
Dari namanya sudah jelas, bahwa istighfar ini
merupakan bacaan istighfar yang seharusnya menjadi nomor urut pertama apabila
kita ingin membiasakan membacanya, artinya jangan sampai bacaan sayyidul istighfar ini ditinggalkan, sementara
bacaan istighfar yang lainnya selalu dibaca, walaupun memang tidak ada aturan
kita harus selalu membaca istighfar tertentu. Namun, seandainya kita urutkan
dari berbagai macam bacaan istighfar yang ada, maka bacaan sayyidul istighfar
ini menduduki rangking pertama dilihat dari segi redaksional maupun kelengkapan
arti.
للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ
إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ
مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ
بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ
يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Artinya : ”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq
kecuali Engkau,Engkau yang menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku
diatas ikatan janji -Mu dan akan menjalankannya dengan semampuku, aku
berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku
mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu,
maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni segala dosa kecuali
Engkau” (HR. Bukhari no. 6306).
B.
Keutamaan Sayyidul-Istighfar
مَنْ
قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ
يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ
وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ
الْجَنَّةِ
Artinya : “Barangsiapa mengucapkannya
pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu
sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada
malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka
dia termasuk penghuni surga.”
Rabu, 28 Oktober 2015
PEMUDA DAN PERMAINAN YANG SIA-SIA
Masih banyak remaja yang suka
ngabisin pagi sampai malem buat permaian yang kurang bermanfaat. Dalam satu
hadits disebutkan bahwa Baginda Nabi saw bersabda : “Tanda baiknya
ke-Islaman pada diri seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang sia-sia
(Tidak bermanfaat)”.
Kayak gimana sih permainan yang
sia-sia (tidak bermanfaat) itu? Di bawah ini misalnya :
1. Mencet
nomor-nomor handphone atau telepon rumah
secara acak, terus gangguin orang-orang yang lagi tidur, neror atau menggoda
anak gadis orang lain. Para pelakunya selain berdosa, dapet sumpah serapah. Sementara
para malaikat mencatat dan menuliskannya dalam buku catatan amal. Allah swt
berfirman :
Artinya
: “Yaitu ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk
di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebalah kiri” (Q.S Qaaf : 17).
Allah
swt juga berfirman :
Artinya
: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi
(pekerjaanmu), yang mulia (d isisi Allah) dan yang mencatat
(pekerjaan-pekerjaanmu itu)” (Q.S al-Infithar ; 10-11).
2. Nyetir
mobil atau sepeda motor ugal-ugalan, dengan kecepatan gila, ngelanggar
rambu-rambu lalu lintas, gangguin kaum muslimin di jalan raya. Sering remaja
kayak gini ngegas semaunya, seolah-olah jalan raya tuh medan balap. Dengan alasan
memacu adrenalin, mereka menguji nyali di jalanan unyuk menghabiskan waktu atau
bahkan menghambur-hamburkan harta. Mereka ngerasa udah hebat dan banyak yang
ngagumi. Padahal, tindakan mereka itu kayak bunuh diri, bisa berakibat kematian
atau cacat seumur hidup.
Ugalan-ugalan di
jalanan itu selain dapat membahayakan diri sendiri, juga dapat membahayakan
orang lain. Dalam hal ini Allah swt berfirman :
Artinya : “Janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (Q.S al-Baqarah : 195).
Dan di sebutkan dalam sebuah hadits,
bahwa Rasulullah saw bersabda :
Artinya : “Janganlah kamu
membahayakan diri sendiri dan orang lain”.
3. Ada
yang nyadu game elektronik seperti play station, game online dan lain-lain. Siang,
malem, main terus-terusan. Salah seorang fudhala’ menceritakan tentang salah
seorang remaja tiga hari berterut-turut ikut turnamen game play station ini,
berhentinya kalau mau tidur dan buat hajat saja. Waliyadzubillah.
Untuk mereka semua , ada sebuah kisah
yang mungkin bisa bikin sadar bahwa mereka telah menyalahi fitrah yang Allah gariskan
dan menyimpang dari tujuan Allah menciptakan mereka :
Allah
swt berfirman :
Artinya
: “Dan Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah Ku”
(Q.S adz-Dzariyat : 56).
Salah seorang Salafus Shalih lewat di
depan seorang pemuda yang sedang bermain-main. Seorang pemuda lain ngeliatin
mereka sambil menangis sedih. Salafus Shalih tadi menyangka bahwa pemuda yang
menangis ini ingin bermain bersama mereka. Maka ia bertaya : ‘hai anakku,
maukah aku belikan mainan untukmu seperti yang mereka miliki? Pemuda itu
menjawab : “bukan karena itu aku menangis”. Lelaki itu bertanya : “jadi mengapa
kamu menangis?” ia menjawab : “aku menangisi mereka karena telah melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan tujuan mereka diciptakan. Tidakkah mereka
mendengar firman Allah swt mencela sikap sebahagian manusia :
Artinya : “maka apakah kamu mengira,
bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami” (Q.S al-Mukminun : 115).
Maka takjublah lelaki tadi mendnegar
jawaban yang teramat menyentuh dari pemuda itu. Lalu ia berkata kepadanya
: “Hai anakku, beri aku nasihat! Maka pemuda itu berkata dengan nada yang
mengundang simpati :
“Dunia tidaklah kekal abadi bagi orang
yang hidup. Dan orang yang hidup tidaklah kekal aabdi di dunia”.
Nah, jika ingin dicintai Allah dan
Rasul-Nya hendaklah para pemuda/I meninggalkan perkara-perkara yang sia-sia
sebagai yang telah di sebutkan di atas! Semoga Allah swt menjadikan kita hamba
yang shaleh serta berakhlaq mulia.
Mari di share. Semoga yang ngebaca
tersentuh hatinya. Sehingga ia tinggalkan perkara-perkara yang sia-sia itu. Berarti
kita sudah menunjukkan kebaikan untuk orang lain. Dan menunjukkan kebaikan itu
diberi ganjaran pahala yang besar loh….
Wallahu a’lam bis-showab..
Selasa, 27 Oktober 2015
Memakai Farfum Bercampur Alkohol
Tanya:
Bagaimana hukum alkohol? Najiskah atau tidak? Bagaimana pula hukum
menggunakan farfum saat melaksanakan
sholat?
Jawab:
Alkohol
yang biasa digunakan untuk menyebut etanol, menurut ahli kesehatan adalah zat
cair yang dihasilkan dari proses permentasi atau diproduksi secara kimiawi,
berwarna bening seperti air, mempunyai bau khusus, dan memiliki efek pati rasa
atau mengurangi pengaruh saraf tertentu (memabukkan) bila digunakan pada
bagian tubuh secara berlebihan atau secara tidak benar. Karena efek pati rasa
itu alkohol memiliki potensi madharat (negatif)
yang tidak kecil bagi kehidupan
manusia bila disalahgunakan, sekaligus memiliki manfaat yang sangat besar bila
digunakan secara benar.
Hukum
alkohol itu masih menjadi perselisihan di antara ulama’, pertama: ditinjau dari
sisi madharat alkohol yang bisa kita tahu adalah manakala dijadikan unsur dasar
minuman keras itu bisa memabukkan. Karena memabukkan itu, para ulama’
menetapkan bahwa alcohol najis hukumnya sehingga dengan sendirinya haram
dikonsumsi (ahkam al-fuqaha’, 245). Dan karena alkohol itu najis maka tidak
boleh digunakan dalam ibadah-ibadah yang dalam pelaksanaanya membutuhkan
kesucian.
Walaupun
demikian ulama bermazhab syafi’i berpendapat bahwa campuran sedikit zat cair
yang najis dalam hal ini alkohol terhadap obat-obatan atau farfum untuk sekedar
menjaga kebaikannya atau mengawetkannya
dihukumi ma’fu atau dimaafkan. Karenannya, meskipun najis tetapi boleh
digunakan untuk sholat. (kitab fiqih ala Madzahib al-Arba’a: I, 21.)
Kedua:
Ditetapkan oleh Lembaga Fiqih Islam Dunia pada muktamar ke-8 di Brunai
Darussalam, (21-27 juni 1993 M atau 1-07 Muharram 1414 H) bahwa alcohol hukumnya tidak najis. Hal ini
didasarkan pada qaidah fiqih “Al-ashlu fi al-asyiya’i at-tharah”.
Artinya: asal pada segala sesuatu itu suci hukumnya. Alasannya, karena
kenajisan alkohol atau khamar dan semua yang memabukkan itu bersifat maknawi
bukannya hissi atau kenyataan dalam zatnya.
Selain
sisi madharat , disadari maupun tidak sebenarnya kita telah memanfaatkan
alkohol itu. Dalam bidang kesehatan misalnya, alcohol biasanya digunakan untuk
membersihakan luka, membunuh kuman penyakit, obat bius dan lainnya. Dalam
kehidupan sehari-hari alkohol dijumpai sebagai campuran farfum atau makanan dan
minuman baik sebagai pengawet atau unsur
pelarut. Maka menurut keputusan Lembaga Fiqih Islam Dunia itu, penggunaan
alcohol untuk kepentingan semacam itu tidak termasuk khamar. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fiqih
Al-Islami: VII, 5264-5265, bahwa farfum yang menggunakan sedikit campuran
alkohol atau makanan, minuman ataupun obat yang dalam pembuatannya menggunakan
sedikit alkohol untuk melarutkan bahan-bahan yang tidak bisa dilarutkan dengan
air atau untuk sekedar mengawetkan, hukumnya boleh dikonsumsi atau digunakan
karena dirasa sulit untuk menghindarinya (li ‘umum al-balwa). Wallahu’alam.
Rabu, 21 Oktober 2015
PUASA HARI ASYURA’ (MUHARRAM) DAN AMALAN-AMALANNYA
Puasa hari Asyura (Muharram) adalah
puasa pada hari kesepuluh dari bulan Muharram. Rasulullah saw bersabda tentang
keutamaannya “Aku yakin Allah swt akan menghapuskan dosa tahun lalu”.
Puasa Asyura tidak wajib hukumnya , sekalipun terdapat banyak hadits yang
menyuruh untuk melakukannya, karena ada satu hadits Shahih al-Bukhari dan
Muslim yang artinya : “Sesungguhnya hari ini adalah hari Asyura. Tidak
diwajibkan atas kamu berpuasa. Tetatpi, siapa yang mau silahkan berpuasa, siapa
yang tidak mau silahkan tidak berpuasa”. Para ulama memahamkan
hadits-hadits yang berisi perintah puasa pada Asyura ini sebagai sunnah yang
sangat dianjurkan (sunnah muakkad).
Adapun hikmah Arafah menghapuskan
dosa dua tahun (tahun lalu dan akan datang), sedangkan puasa Asyura hanya
menghapuskan dosa satu tahun (tahun lalu), karena Arafah adalah harinya nabi
Muhammad saw, sedangkan Asyura adalah harinya Nabi Musa as. Dan Nabi kita, Nabi
Muhammad saw merupakan Nabi yang paling utama dari seluruh Nabi lainnya. Karena
itu, hari Nabi kita menghapuskan dosa dua tahun.
A. Puasa Tasu’a Menyertai Asyura
Puasa Tasu’a yaitu pada hari
kesembilan bulan Muharram, berdasarkan sabda Rasulullah saw : “Jika aku
hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (dari
bulan Muharram), tetapi Rasulullah wafat sebelum itu.” (HR. Muslim).
Dan
hikmah puasa Tasu’a mengiringi Asyura adalah untuk berhati-hati, karena ada
kemungkinan keliru dalam penetapan awal bulan. Juga untuk supaya berbeda dengan
orang Yahudi, karena mereka pun berpuasa pada tanggal sepuluh Muharram. Begitu
pula untuk berjaga-jaga dari menunggalkan puasa pada hari itu saja, sebagaimana
halnya puasa pada hari jumat saja.
Jika
puasa Asyura tidak diikuti dengan puasa Tasu’a, maka disunnahkan mengiringinya
dengan puasa pada hari kesebelas bulan Muharram. Bahkan, al-Imam asy-Syafi’I
dalam kitabnya al-Umm dan al-Imla’, menyebutkan sunnah hukumnya puasa tiga hari
tersebut (tanggal 9, 10, dan 11 bulan Muharram)[1].
B. Amalan Hari Asyura
Adapun amalan-amalan yang dilakukan
dihari Asyura di anataranya adalah :
1. Puasa
2. Dzikir
3. Silaturrahim
4. Sedekah
5. Mengunjungi
orang berilmu
6. Membesuk
orang sakit
7. Mengusap
kepala anak yatim
8. Member
kelapangan kepada keluarga
9. Membaca
surah al-Ikhlas seribu kali dan lain sebagainya[2].
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra
bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah swt mewajibkan kepada
Bani Isra’il berpuasa satu hari dalam setahun, hari Asyura, yaitu hari
kesepuluh dari bulan Ramadhan. Maka berpuasalah kamu pada hari itu dan berikanlah
kelapangan kepada keluargamu, karena siapa yang memberikan kelapangan harta
kepada keluarganya niscaya Allah swt memberikan kelapangan kepadanya sepanjang
tahun. Berpuasalah kamu pada hari itu, karena hari itu adalah hari :
1. Diterima taubat Nabi Adam as sehingga dia menjadi
bersih
2. Diangkat Nabi Idris as ke tempat yang tinggi
3. Dikeluarkan Nabi Nuh as dari perahunya
4. Diselamatkan Nabi Ibrahim as dari api
5. Diturunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as
6. Dikeluarkan Nabi Yusuf as dari penjara
7. Dikembalikan penglihatan Nabi Ya’qub as
8. Dihilangkan kesulitan (cobaan) yang menimpa Nabi
Ayyub as
9. Dikeluarkan Nabi Yunus as dari perut ikat
10. Terbelah laut merah untuk bani Isra’il
11. Diberikan kekuasan (kerajaan) kepada Nabi
Sulaiman as
12. Hari pertama dunia diciptakan Allah swt
13. Hari pertama hujan turun di langit
14. Diciptakan ‘Arsy, Lauhul Mahfuzh dan Qalam
15. Diciptakan Malaikat Jibril
16. Diangkat Nabi Isa as ke langit
17. Terjadinya kiamat
Barangsiapa yang berpuasa Asyura,
seolah-olah dia telah berpuasa sepanjang tahun. Puasa Asyura adalah puasa para
Nabi. Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dengan beribadah , seolah-olah dia
beribadah kepada Allah swt sama seperti ibadah penghuni langit yang tujuh
(malaikat)[3].
Hari mulia ini dikenal sebagai hari
dimana diselamatkan dan dikeluarkan Nabi Nuh as dari kapalanya. Hal demikian
tepatnya, ketika Nabi Nuh as dan pengikutnya turun dari kapal, mereka
mengadukan rasa laparnya, sedangkan perbekalan sudah habis. Lalu Nabi Nuh as
menyuruh mereka membawa sisa-sisa perbekalan yang tersedia. Ada yang membawa
segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kacang ‘adas, ada yang segenggam
kacang ful, ada yang segenggam kacang hims, sampai tujuh macam biji-bijian. Dan
hari tersebut adalah hari Asyura, lalu Nabi Nuh as mengumpulkan dan memasaknya
untuk mereka. Kemudian mereka makan dan merasa kenyang degan berkat (barakah)
Nabi Nuh as.
Peristiwa tersebut diabadikan Allah
swt dalam firmanNya : “Hai Nuh,turunlah dnegan selamat sejahtera dan penuh
keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang
yang bersamamu” (Q.S. Hud : 48). Yang mereka makan tersebut masakan pertama
yang dimasak di muka bumi setelah terjadi topan besar. Kemudian orang
menjadikan hal tersebut sebagai sunnag hari Asyura. Barangsiapa yang
melakukannya dan member makan fakir miskin, dia akan mendapatkan pahala yang
besar[4].
C. Dzikir Hari Asyura
Al-‘Allamah al-Juhri menyebutkan
bahwa orang yang membaca dzikir berikut sebanyak 70 kali pada hari Asyura dia
akan dilindungi Allah swt dari keburukan tahun itu, yaitu :
حسبي الله ونعم الوكيل , ونعم
المولى ونعم النصير
[1]
Al-Imam Syamsuddin
Muhammad bin Muhammad al-Khatib asy-Syarbini (w.977 H), Mughni al-Muhtaj,
h. 596.
[2]
As-Sayyid al-Bakri bin
as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyati, Hasyiyah I’anatuth Thalibin, h.
301.
[3]
Hadits ini dicantumkan
oleh imam ath-Thabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Kabir, dengan sanad
yang masih diperbincangkan. Hadits ini termasuk hadits Maudhu’ dan disebutkan
oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at. Takhrij terhadap hadits
ini dilakukan oleh asy-Syaikh Ibrahim bin Ahmad ‘Abdul Hamid.
[4]
Asy-Syaikh Syu’aib bin
Sa’ad bin Abdul Kafi, ar-Raudhul Faiq fi al-Mawa’izh wa ar-Raqaiq, h.
732 dan 739.
Langganan:
Postingan (Atom)






